Merdeka yang Terasa Jauh: Refleksi di HUT ke-81 RI
Semalam saya melewatkan tirakatan. Acara yang setiap tahun digelar di kampung saya, yang biasanya jadi penanda bahwa malam menjelang 17 Agustus itu berbeda dari malam-malam biasa. Entah karena capek, entah karena memang semangatnya sudah tidak sekuat dulu, saya tidak ke sana. Dan anehnya, rasa bersalah yang muncul bukan cuma soal absen dari acara kampung. Ada yang lebih dalam dari itu: perasaan bahwa “MERDEKA” sebagai kata yang dulu terasa hidup, sekarang terasa seperti formalitas.
Delapan puluh satu tahun. Usia yang, kalau dipakai untuk manusia, sudah lebih dari cukup untuk disebut sepuh, matang, berpengalaman. Tapi kenapa rasanya bangsa ini masih berjalan sempoyongan, seperti belum benar-benar tahu ke mana arah yang dituju?
Ketika Kepercayaan Mulai Retak
Perasaan ini ternyata bukan cuma milik saya sendiri. Ada data yang, kalau mau jujur, cukup menampar. Survei Saiful Mujani Research and Consulting yang dilakukan Juli 2026 mencatat kepuasan publik terhadap kinerja presiden turun ke angka 51,1 persen, anjlok dari 81,2 persen di November 2025. Dalam waktu kurang dari setahun, ada penurunan sekitar 30 poin. Bukan angka kecil.
Tentu, survei bukan kitab suci. Metodologinya bisa diperdebatkan, dan satu lembaga survei bisa berbeda hasil dengan lembaga lain, ada juga survei yang mencatat tingkat kepuasan yang jauh lebih tinggi di periode yang hampir bersamaan. Tapi terlepas dari angka pastinya, satu hal yang tampak konsisten dari berbagai laporan adalah adanya pergeseran: kepercayaan itu bergerak, tidak lagi berada di titik yang stabil. Dan pergerakan turun sebesar itu, dalam waktu sesingkat itu, biasanya bukan tanpa sebab.
Mungkin ini yang saya rasakan tapi susah dijelaskan: bukan cuma soal siapa yang memimpin, tapi soal jarak. Jarak antara apa yang dijanjikan di podium dan apa yang terasa di dapur rumah tangga. Jarak antara narasi persatuan di pidato kenegaraan dan kenyataan bahwa banyak keputusan besar terasa dibuat untuk kepentingan segelintir orang, bukan untuk rakyat yang katanya diwakili.
Tirakatan yang Saya Tinggalkan
Saya terus memikirkan tirakatan yang saya lewatkan itu. Tirakatan bukan sekadar acara seremonial, ada nilai laku prihatin di dalamnya, semacam pengingat bahwa kemerdekaan itu didapat lewat kesulitan, lewat orang-orang yang rela berkorban tanpa tahu apakah mereka akan sempat menikmati hasilnya. Dulu, generasi yang duduk melingkar sambil berdoa itu paham betul apa yang mereka syukuri. Sekarang, generasi seperti saya kadang cuma menganggapnya sebagai agenda tahunan yang bisa dilewatkan kalau capek.
Bukan berarti saya menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Tapi ada sesuatu yang hilang ketika ritual kolektif seperti itu perlahan kehilangan maknanya, bukan cuma di level individu, tapi di level bangsa. Ketika “merdeka” hanya jadi kata yang diteriakkan sekali setahun, lalu kita kembali ke rutinitas seolah tidak terjadi apa-apa.
Bangsa yang (Masih) Mencari Arah
Saya tidak mau menutup tulisan ini dengan nada putus asa saja, karena itu juga tidak jujur. Di tengah angka-angka yang menunjukkan keretakan kepercayaan, masih ada hal-hal kecil yang menyala: anak muda yang mulai berani bersuara soal kebijakan publik, komunitas-komunitas yang bergerak sendiri memperbaiki lingkungannya tanpa menunggu perintah dari atas, orang-orang kampung yang tetap menyalakan lampu tempel dan memasang bendera meski hatinya penuh tanda tanya.
Mungkin begitulah cara merdeka bertahan, bukan lagi sebagai euforia kolektif yang meledak-ledak seperti 81 tahun lalu, tapi sebagai laku kecil yang terus dijaga di level personal dan komunitas, sembari menuntut yang lebih baik dari mereka yang diberi amanah.
Kalau boleh berharap di usia ke-81 ini: bangsa ini butuh pemimpin yang mengingat bahwa jabatan adalah titipan, bukan warisan. Butuh ruang di mana kritik tidak dianggap sebagai ancaman, tapi sebagai bentuk cinta yang paling jujur pada negeri sendiri. Dan butuh rakyat, termasuk saya, yang tidak berhenti peduli, sekalipun lelah, sekalipun kadang memilih absen dari tirakatan karena kepercayaan sedang di titik rendahnya.
Merdeka bukan garis akhir yang sudah kita capai sejak 1945. Ia proses yang terus diperjuangkan ulang, setiap tahun, oleh setiap generasi, termasuk oleh kita yang hari ini merayakannya sambil bertanya-tanya, “sudah benar-benar merdeka, belum?”
Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia. Semoga rasa gelisah ini bukan tanda putus harap, tapi tanda bahwa kita masih peduli.