Kenapa Saya Susah Berhenti Scroll, Padahal Tahu Itu Buang Waktu
Tadi malam saya buka HP cuma untuk lihat jam. Itu saja niatnya. Tapi entah bagaimana, empat puluh menit kemudian saya masih di situ, jempol masih bergerak sendiri ke atas, layar masih berganti-ganti tanpa saya benar-benar mengingat apa saja yang sudah saya lihat. Saya baru sadar setelah leher terasa pegal dan mata mulai perih.
Yang bikin saya heran bukan soal berapa lama waktunya. Yang bikin saya heran adalah: saya tahu persis ini buang-buang waktu, tapi tetap saja saya lakukan. Bukan sekali, bukan dua kali.
Mengakui Kontradiksi Ini
Kalau dipikir-pikir, ini aneh. Saya bukan orang yang tidak tahu soal manajemen waktu. Saya kerja sebagai content creator, jadi soal produktivitas itu semacam makanan sehari-hari. Saya tahu teorinya. Saya bahkan pernah menulis soal itu. Tapi pengetahuan ternyata tidak otomatis berubah jadi kebiasaan.
Ada jarak yang aneh antara apa yang saya tahu dan apa yang saya lakukan. Dan saya curiga, ini bukan cuma soal kurang niat atau kurang disiplin. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Kenapa Scroll Itu Susah Dihentikan
Saya coba cari tahu, dan ternyata ada penjelasan yang cukup masuk akal soal ini. Aplikasi-aplikasi yang kita pakai sehari-hari dirancang dengan prinsip variable reward, hadiah yang tidak menentu. Setiap kali kita scroll, otak kita tidak tahu pasti apa yang akan muncul selanjutnya: bisa video lucu, bisa berita penting, bisa juga sesuatu yang biasa saja. Ketidakpastian inilah yang membuat otak terus penasaran, terus berharap “mungkin yang berikutnya lebih menarik”.
Ini pola yang sama seperti mesin slot di kasino. Bukan kebetulan kalau desainnya mirip, memang sengaja dibuat supaya kita susah berhenti.
Jadi sebenarnya, bukan saya yang lemah kemauan. Ada sistem yang memang dirancang untuk membuat siapa pun, termasuk orang yang paling disiplin sekalipun, kesulitan berhenti.
Tapi menyalahkan aplikasi saja rasanya juga terlalu mudah. Karena kalau saya jujur, ada sesuatu dari dalam diri saya sendiri yang membuat saya rentan terhadap pola ini.
Apa yang Sebenarnya Saya Cari?
Ini pertanyaan yang lebih sulit saya jawab. Ketika saya scroll tanpa arah seperti itu, apa sebenarnya yang sedang saya cari?
Kadang saya pikir itu soal menghindari rasa bosan. Ada jeda beberapa detik saat pikiran kosong, menunggu sesuatu, duduk sendirian, atau sekadar transisi antara satu aktivitas ke aktivitas lain, dan alih-alih membiarkan jeda itu ada, saya buru-buru mengisinya dengan sesuatu. Apa saja, asal tidak sunyi.
Kadang saya pikir itu soal rasa takut ketinggalan. Takut ada sesuatu yang penting terjadi dan saya tidak tahu. Padahal kalau dipikir lagi, hampir semua yang saya lihat saat scroll tanpa tujuan itu, besok pun sudah saya lupakan.
Dan kadang, ini yang paling jujur, saya pikir itu soal kesepian yang tidak saya akui. Bukan kesepian yang dramatis, tapi semacam kebutuhan untuk merasa terhubung dengan sesuatu di luar diri saya sendiri, walau hanya lewat layar, walau hanya sesaat.
Saya tidak selalu tahu jawaban yang tepat. Mungkin jawabannya berbeda-beda, tergantung hari, tergantung suasana hati.
Ternyata Bukan Cuma Perasaan Saya Saja
Suatu hari saya cerita soal ini ke seorang kawan. Reaksinya cukup keras: menurutnya, aplikasi-aplikasi ini memang sengaja dibuat untuk “memperbudak” penggunanya. Awalnya saya pikir itu berlebihan. Tapi setelah saya cari tahu lebih jauh, ternyata ada yang benar dari kekhawatirannya, walau mungkin perlu bahasa yang lebih tepat.
Yang jelas benar: platform video pendek memang dirancang dengan sengaja untuk memaksimalkan waktu yang kita habiskan di sana, lewat autoplay otomatis dan algoritma rekomendasi yang dipersonalisasi supaya kita terus menonton. Ini bukan rahasia. Ini memang model bisnisnya, makin lama kita di sana, makin besar nilai yang bisa mereka dapat dari data dan iklan.
Dan dampaknya ke otak kita ternyata bisa diukur. Beberapa riset terbaru menemukan bahwa penggunaan video pendek berkaitan dengan gangguan pada bagian otak yang mengatur kontrol diri dan fokus, area yang sama yang membantu kita menahan diri dan mengarahkan perhatian. Ada juga data yang menyebutkan bahwa kemampuan fokus manusia secara umum terus menurun dari tahun ke tahun: dari sekitar dua setengah menit di tahun 2004, jadi kurang dari satu menit sekarang. Bukan cuma saya yang makin susah fokus, sepertinya ini pola yang lebih luas.
Tapi saya juga tidak mau buru-buru menyimpulkan ini semacam konspirasi jahat yang sengaja “menguasai” saya secara pribadi. Yang lebih masuk akal, menurut saya: ini soal insentif bisnis yang kebetulan searah dengan titik lemah psikologis manusia, rasa penasaran, takut ketinggalan, butuh validasi, atau sekadar menghindari rasa sepi. Platformnya tidak tahu saya secara personal. Tapi sistemnya cukup pintar untuk menemukan celah yang sama, di hampir semua orang yang memakainya.
Yang menarik, ini artinya bukan cuma soal kemauan saya yang lemah. Ada desain yang memang dibuat untuk membuat siapa pun kesulitan berhenti, termasuk orang yang paling disiplin sekalipun. Mengetahui ini tidak lantas membuat saya bebas dari kebiasaan itu. Tapi setidaknya saya jadi lebih paham, saya sedang melawan sesuatu yang memang dirancang untuk sulit dilawan.
Ironi yang Tidak Terduga
Tapi ada satu hal yang belakangan justru membantu saya, dan ini agak ironis: membanjirnya konten hasil clipper dan AI.
Sekarang, hampir di semua platform, isi feed saya dipenuhi konten yang polanya itu-itu saja, video yang di-repost ulang dari sumber lain tanpa banyak perubahan, atau konten yang jelas dibuat AI, entah dari suaranya yang terlalu rapi, editingnya yang formulaic, atau caranya menyampaikan sesuatu yang terasa generik. Dan entah kenapa, saya cukup peka membedakan mana yang dibuat manual dengan sungguh-sungguh, dan mana yang sekadar hasil produksi massal.
Begitu saya bisa mengenali polanya, rasa penasaran yang tadinya bikin saya terus scroll jadi berkurang sendiri. Kalau isi feed terasa generik dan membosankan, dorongan untuk terus mencari “yang berikutnya mungkin lebih menarik” itu jadi melemah. Ternyata rasa bosan, yang tadinya saya coba hindari dengan scroll, sekarang justru muncul karena scroll itu sendiri.
Saya tidak tahu apakah ini akan bertahan lama. Mungkin nanti kualitas kontennya berubah lagi, atau saya yang jadi terbiasa dan tidak lagi peka membedakannya. Tapi untuk sekarang, ironisnya, banjirnya konten generik ini jadi semacam rem alami yang tidak saya rencanakan sebelumnya, dan barangkali ini juga tidak lepas dari kenapa YouTube makin sulit dimonetisasi di 2027: ketika konten generik makin membanjiri, nilai yang bisa ditawarkan sebuah video ke penonton, dan ke pengiklan, ikut menurun.
Bukan Soal Berhenti Total
Saya sempat berpikir, mungkin solusinya adalah berhenti total. Uninstall aplikasi, hapus semua, hidup lebih “murni”. Tapi kalau saya jujur pada diri sendiri, itu bukan solusi yang realistis untuk hidup saya. Pekerjaan saya sendiri berhubungan dengan dunia digital. Saya tidak bisa, dan tidak mau, benar-benar menjauh dari itu.
Yang mulai saya coba, bukan berhenti total, tapi lebih ke arah sadar setiap kali dorongan itu muncul. Ada jeda kecil sebelum jempol bergerak membuka aplikasi, di titik itu saya coba bertanya sebentar: saya benar-benar ingin membuka ini, atau saya cuma menghindari sesuatu?
Kadang jawabannya tetap: saya memang mau buka. Dan itu tidak apa-apa. Yang penting saya sadar sedang memilih, bukan sekadar bereaksi otomatis.
Penutup yang Jujur
Saya tidak akan menutup tulisan ini dengan klaim bahwa sekarang saya sudah berhasil mengatasi kebiasaan ini. Karena itu tidak jujur. Saya masih sering scroll lebih lama dari yang saya rencanakan. Saya masih sering baru sadar setelah waktu berlalu cukup banyak.
Tapi ada satu hal yang berubah setelah saya cari tahu lebih jauh soal ini: saya berhenti menyalahkan diri sendiri sepenuhnya. Ini bukan alasan untuk pasrah dan membiarkan kebiasaan itu terus berlanjut tanpa usaha. Tapi setidaknya saya jadi lebih jujur soal apa yang sebenarnya saya hadapi, bukan cuma soal kemauan pribadi yang lemah, tapi soal melawan sistem yang memang dirancang untuk sulit dilawan, sambil terus mencoba mengenali apa yang sebenarnya saya cari setiap kali jempol ini bergerak dengan sendirinya.
Dan mungkin, kalau ada hikmah kecil dari banjirnya konten generik hari ini, itu adalah pengingat bahwa rasa bosan itu tidak selalu buruk. Kadang justru rasa bosan itulah yang akhirnya membuat saya berhenti, bukan karena saya berhasil melawan, tapi karena yang saya cari memang sudah tidak ada di sana lagi.
Mungkin itu saja dulu untuk sekarang. Bukan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya berhenti berpura-pura bahwa masalah itu tidak ada.
Kadang memang kita perlu mengakui dulu kalau ada kebiasaan yang sulit dikendalikan, baru pelan-pelan mencari cara untuk mengubahnya. Dan benar juga, rasa bosan ternyata sesekali justru bisa menjadi “rem” alami supaya kita berhenti scroll.
Benar. Hanya saja, seringkali kita gengsi untuk mengakuinya. Padahal dengan mengakui, kesadaran lainnya akan tumbuh dan makin membuat kita lebih tenang.
Untung saja ada clipper yang generik itu mas.. jadi saya bisa mengerem scroll ing tanpa tujuan ini.. Terima kasih kunjungannya.
Aku juga begitu, suka lupa waktu kalo lagi scroll hape, eh ternyata sudah jam 11.😂
Sepertinya uninstall aplikasi juga bukan solusi mudah ya, yang perlunya sepertinya pengendalian diri biarpun sulit
Iya. Untungya, sekarang banyak konten clipper yg membosankan. Itu cukup menolong untuk berhenti scroll … 🙂